Begitu Cepat Allah SWT Menolongku
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Bermula ketika aku dan istriku menjalani ibadah haji dan umrah tahun 2011, aku dan istri meninggalkan asrama haji kota Bekasi pada hari senin pagi 24 Oktober 2011 bersama beberapa rombongan berangkat menuju ke Tanah Suci melalui Bandara Soekarno Hatta.
Rasa syukur kembali ku ungkapkan kepada Allah SWT, Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini ku ungkapkan ketika kaki, tangan, tubuhku berdiri termangu untuk yang pertama kali dalam hidupku dihadapan rumahmu “Ka’bah”. Mataku yang memandang diiringi decak kagum tak kuasa, air matapun menetes deras jatuh membasahi pipiku.
Sudah sepekan aku berada di Tanah Suci, hari-hari ku hanya kugunakan untuk beribadah di Masjid Al Haram, sebab rahmat Allah SWT senantiasa diturunkan di sana sepanjang waktu. Sebagaimana salah satu hadits Rasulullah yang menunjukan bahwa ibadah di Masjidil Al Haram amatlah diperintahkan, “Sungguh Allah menurunkan pada setiap hari dan malam 120 rahmat di Baitullah ini. 60 rahmat untuk orang yang melakukan tawaf, 40 rahmat bagi orang yang mendirikan salat, dan 20 rahmat bagi orang yang memandang ke arah Ka’bah.” (HR Thabrani).
Sungguh begitu berlimpah nikmat selama berada di Tanah Suci. Namun siang itu kurasakan suasana hati yang tidak seperti biasa, setiap ku tatap wajah istri, rasa bersalah langsung terbersit dalam pikiranku. Hati menjadi seperti tercerai berai, dan punya perasaan kalau sang istri saat itu sedang marah kepadaku.
Aku menjadi gundah karena besok aku dan rombongan akan melakukan City Tour. Bagaimana mungkin aku bisa memandu kelompokku, sementara hatiku benar-benar merasakan tercerai berai antara aku dan istriku. Rasa bersalah inilah yang mengingatkanku akan firman Allah SWT yaitu “Dan berpeganglah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. (QS. Ali Imran : 103).
Benar juga apa yang ku pikirkan, istriku yang biasa duduk berdampingan didalam bus. Pagi itu, lebih memilih untuk duduk dengan rekan satu kamarnya. Melihat kenyataan seperti itu, membuat hati ku menjadi bertambah tercerai berai dengan istriku.
Sampailah bus rombongan di Jabal Rahmah (gunung kasih sayang), kulihat istriku bersama teman-teman satu kamarnya sudah memanjat ke puncak Jabal Rahmah. Alhamdulillah satu kekhawatiranku menjadi sirna setelah kulihat istriku sudah berada dipuncak Jabal Rahmah, bagaimana tidak khawatir kalau istriku saat di tanah air sedang sakit sendi lututnya.
Akupun akhirnya memanjat Jabal Rahmah, alhamdulillah sampai dipuncak juga. Dari atas puncak Jabal Rahmah aku melihat begitu indah dan agung ciptaan Allah SWT, akhirnya saat itu pula aku menengadahkan kedua telapak tangan untuk bermunajat kepada Allah Illahi Rabbi, “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa istriku, satukan kembali hati ku dan hati istriku tercinta yang saat ini tercerai berai, aamiin.”
Panasnya Tanah Suci mengantarkan usainya City Tour hari ini, kemudian aku dan seluruh rombongan kembali untuk melaksanakan ibadah ke Masjidil Al Haram. Akupun akan memulai tawaf mengitari ka’bah, namun begitu wajahku menatap ka’bah tak kuasa air mata ini menetes hingga kutengadahkan telapak tanganku untuk kembali bermunajat meminta kepada Allah SWT agar hati ku yang telah tercerai berai dengan hati istriku menjadi satu kembali.
Suara alarm di sepertiga malam membangunkan ku dari tidur nyenyaknya, lantas aku bergegas untuk mandi, memakai gamis. Begitu keluar dari kamar untuk pergi ke Majisdil Al Haram, kulihat senyum terindah dari istriku pagi itu yang ternyata sudah siap-siap juga dengan teman-teman sekamarnya untuk pergi ke Masjidil Al Haram. Kami pun berjalan bersama menuju Masjidil Al Haram, seperti sebelum hati kami bercerai berai.
Alhamdulillaahhil ladzii bi ‘izzatihii wa jalaalihii tatimmush sholihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan keagungan-Nya segala amal saleh sempurna). Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa-doa ku. Aku yakin bahwa mengabulkan harapan semata-mata adalah urusan Allah. Hari yang begitu indah, usai menunaikan salat subuh. Aku dan istri meminta izin untuk berpisah dengan rombongan yang akan kembali ke hotel dimana rombongan kami beristirahat. Aku dan istri duduk santai dipelataran Masjid Al Haram dengan ditemani segelas teh Tarik dan segenggam roti. Aku pun asik ngobrol dengan istri, sesekali kulihat senyumnya yang indah.
Betapa bahagianya aku, ternyata Allah telah menolong dan mengabulkan doa-doaku dengan begitu cepat dan nyata. Ketika doa yang kita lantunkan benar-benar yakin akan pertolonagn Allah, maka Allah akan mempercepat terkabulnya harapan kita.
Penulis: Troi Anderson