Logo
Masjid Jami Al-Ikhlas
Membina Generasi Muda Tangguh, Mandiri, Terampil, dan Berakhlak Mulia
image

Ibu, kata yang tak mungkin terhapus diingatanku. Ketika kecil aku pun kerap mendengar nyanyian tentang kasih sayang ibu. Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa, itulah sepenggal kalimat dari nyanyian sebagai bentuk ungkapan kasih sayang terhadap ibu. 

           Namun aku juga diajarkan bahkan dari sejak kecil satu kalimat bahwa ‘Surga dibawah telapak kaki ibu’ atau dalam bahasa Arabnya diucapkan dengan kalimat al-jannatu tahta aqdam al-ummahat. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Surga di bawah telapak kaki ibu. Siapa yang dikehendaki (diridhai) para ibu, mereka bisa memasukkannya (ke surga); siapa yang dikehendaki (tidak diridhai), mereka bisa mengeluarkannya (dari surga).”

           Kalimat itulah yang mengingatkanku untuk selalu menghormati dan menyayangi ema panggilan akrabku terhadap ibu. Setiap kali dekat dengan ema, hati ini terasa tentram. Dan bahkan saat ini, walaupun aku sudah berkeluarga namun setiap kangen dan bisa jumpa dengan ema perasaan itu masih sama tetap ada seperti saat aku masih anak-anak yaitu hati menjadi tentram.

         Ema bagiku adalah sosok wanita yang sangat hebat, bagaimana tidak… Sembilan bersaudara, tangan emalah salah satunya yang merawat hingga membesarkan aku dan adik-adikku. Sungguh pantaslah bila Rasulullah sangat meninggikan derajat seorang ibu, seperti dalam perjalanan hidup Rasulullah pernah datang seseorang bertanya kepadanya. Wahai Rasulullah, siapa yang mesti dan pertama kali kita hormati dalam kehidupan ini. Rasulullahpun menjawab: ibumu, ibumu, ibumu. Kata ‘ibumu’ diulang sampai tiga kali oleh Rasulullah.

    Mengapa Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali. Maknanya bahwa derajat kemuliaan dan bakti tertinggi itu terletak pada penghormatan secara totalitas pada seorang Ibu. Maka pantaslah bila keridhoan Allah ada pada ridho orang tua, dan kemurkaanNya juga pada kemarahan orangtua. Itulah sebabnya aku paling pantang untuk membuat orangtua marah dan murka.

           Perubahan perjalanan hidup ku tak terelakan lagi, masa kanak-kanak, masa remaja hingga masa dewasa. Namun sungguh aku merasakan betapa rasa kasih sayang Ema terhadap ku masih tetap besar walaupun aku sudah berkeluarga, inilah yang membuat aku selalu merasakan begitu tentram saat dekat dengan Ema.

           Maka, tidak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada dibawah telapak kaki ibu. Hal ini dapat diartikan bila aku ingin menggapai kehidupan yang bisa menentramkan jiwa, kehidupan yang sejahtera lahir bathin dan kebahagiaan dunia akhirat sebagai kunci utamanya yaitu bahagiakan, sayangi, dan hormati ibumu. Namun kehidupan seseorang tentunya berbeda-beda sehingga bagi yang belum mampu berbuat banyak dalam membahagiakan ibu, maka yang terpenting usaha kearah tersebut masih tetap diperjuangkan, untuk ibu kita.

           Dua puluh empat jam dalam sehari saat aku kecil, ibu merawat dan menjaga hingga aku tumbuh menjadi remaja. Aku teringat betapa ibu dengan tulus dan ikhlasnya menjaga dan merawat aku dikala terbaring sakit dirumah hingga tiga minggu lamanya. Ku lihat ibu yang selalu tersenyum ketika menatap sambil mengusap lembut kepala ku, sambil memanjatkan kepada Allah SWT untuk kesembuhan ku. Pengorbanan dan jasa seorang ibu yang begitu besar dalam perjalanan hidup ku, rasanya tidak akan pernah mampu tergantikan dengan uang. Itu pulalah maka Allah mewasiatkan kepada manusia agar berlaku baik patuh, tunduk, ta’at selalu berbakti sepanjang masa kepada kedua orangtua.

           Bila ingat kematian, maka pastinya akan terbayangkan bagaimana aku akan dimasukkan kedalam kubur. Sebelum semua itu terjadi maka berbaktilah kepada ibu bila ingin bahagia dunia dan akhirat, makanya aku menyebutnya ibu itu sebagai mahligai surga.

        Memang tak ada keutamaan yang dapat melebihi bakti pada sang ibu, karena kebahagiaan hidup dapat aku temukan ketika mampu memberikan yang aku mampu dan menjadikan ibu bapak sebagai tujuan yang diutamakan. Khususnya ketika keduanya memberikan saran, ajaran serta fatwa maka aku jalankan untuk mengarungi samudra kehidupan untuk menjadi anak yang senantiasa berada dalam jalan yang benar, menabur kebaikan dan cinta kasih.

           Betapa tentramnya hati aku, setelah berjumpa dengan ibu setiap kali pulang kampung. Ibuku bagaikan bidadari tak bersayap, kasih sayangnya tak terbendung oleh waktu. Pantaslah, kalau kita juga harus bersikap menghormati dan menyayangi ibu. Bekasi, 2026 Troi Anderson